Senin, 11 Juni 2012


UJI MIKROBIOLOGI SAYUR & BUAH

I.              TUJUAN
·           Memahami metode uji mikrobiologi sayur dan buah,
·           Melakukan uji mikrobiologi sayur dan buah dengan benar.

II.              ALAT & BAHAN
·           Alat
o    Tabung reaksi + rak
o    Cawan petri
o    Erlenmeyer 250 mL
o    Corong
o    Spatula
o    Gelas ukur 100 mL
o    Labu semprot
o    Gelas kimia 50 mL, 600 mL, 250 mL dan 2000 mL
o    Pipet ukur 10 mL
o    Pengaduk kaca
o    Bunsen
o    Penyamprot alkohol
o    Pipet mikro + tip
o    Loyang
o    Pisau
o    Pinset

·           Bahan
o    Sayur bayam
o    Buah apel


III.              DASAR TEORI
Kontaminasi oleh mikroorganisme dapat terjadi setiap saat. Kontaminan ada yang mudah dilihat wujudnya, ada pula yang tidak terlihat (kasat mata). Yang paling berbahaya adalah yang tidak terlihat seperti bakteri , kapang, khamir maupun virus. Kontaminan juga belum tentu merupakan bahan yang kotor tetapi bahan yang bersih pun dapat merupakan cemaran apabila salah tempat, misalnya: tepung terigu mengotori saus tomat atau saus tomat mengotori susu
Sumber kontaminan pada bahan pangan dibagi dalam 2 kelompok besar yaitu kontaminan primer dan kontaminan sekunder. Kontaminan primer disebabkan oleh perlakuan sebelum dipanen atau dipotong ( untuk hewan ) misalnya berasal dari makanan ternak, pupuk kandang, penyiraman dengan air tercemar dan lain-lain. Kontaminan sekunder dapat terjadi pada beberapa tahapan setelah bahan pangan dipanen atau dipotong, misalnya selama pengolahan, penjualan, penyajian. distribusi maupun penimpanan dan persiapan oleh konsumen. Sumber kontaminan sekunder dapat berasal dari produk itu sendiri misalnya daging, telur, susu, ikan, unggas, seafood, sayuran, buah-buahan dan rempah-rempah
Kontaminan atau cemaran dapat diartikan secara luas sebagai semua benda asing yang tidak dikehendaki baik berupa debu, kotoran, tanah, pasir, potongan tangkai, daun, jasad renik, serangga, kutu dan lain-lain yang mencemari bahan, alat maupun ruangan pengolahan. Oleh karena itu mikrobiologi pangan sangat perlu untuk diperhatikan terutama yang bekerja dalam bidang mikrobiologi atau pengolahan produk makanan atau industri. Sanitasi merupakan peranan penting dalam industri pangan karena merupakan usaha atau tindakan yang dilakukan untuk mencegah terjadinya perpindahan penyakit pada pangan.
Dengan menerapkan sanitasi yang tepat dan baik, maka keamanan pangan yang diproduksi dapat dijamin aman untuk dikonsumsi. Sumber kontaminasi bisa berasal dari lingkungan (udara, tanah, air), peralatan pengolahan, pekerja, sampah, serangga dan lain-lain.
Flora mikroba di udara bersifat sementara dan beragam. Udara bukanlah suatu medium tempat mikroorganisme tumbuh, tetapi merupakan pembawa bahan partikulat, debu, dan tetesan cairan yang kesemuanya ini mungkin dimuati mikroba. Jumlah dan tipe mikroorganisme yang mencemari udara ditentukan oleh sumber pencemaran di dalam lingkungan, misalnya dari saluran pernapasan manusia disemprotkan melalui batuk dan bersin, dan partikel-partikel debu dari permukaan bumi diedarkan oleh aliran udara.
Mikroorganisme asal udara dapat terbawa partikel debu, dalam tetes-tetes cairan berukuran besar dan tersuspensikan hanya sebentar, dan dalam inti tetesan yang terbentuk bila titik-titik cairan berukuran kecil menguap. Organisme yang memasuki udara dapat terangkut sejauh beberapa meter atau beberapa kilometer. Sebagian segera mati dalam beberapa detik, sedangkan yang lain dapat bertahan hidup selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau lebih lama lagi. Nasib akhir mikroorganisme asal udara diatur oleh seperangkat rumit keadaan di sekelilingnya, termasuk keadaan atmosfer, kelembapan, cahaya matahari dan suhu, ukuran partikel yang membawa mikroorganisme, ciri-ciri mikroorganismenya, terutama kerentanannya terhadap keadaan fisik di atmosfer.
Faktor-faktor yang menguasai kehidupan bakteri antara lain sebagai berikut :
·           Suhu
Suhu merupakan salah satu faktor penting dalam kehidupan mikroba. Beberapa mikroba dapat tumbuh pada kisaran suhu yang luas.
·           Bahan Bentuk Gas
Jenis dan konsentrasi gas dalam lingkungan sangat mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme, selain dari jenis-jenis gas yang telah dibicarakan pada bab terlebih dahulu, seperti oksigen dan karbondioksida yang sangat penting untuk kehidupan bakteri.
·           Tekanan Osmosis
Terjadinya plasmolisis dan plasmoptisis disebabkan karena sel berada dalam lingkungan dengan tekanan osmosis lebih tinggi atau lebih rendah dari isi sel. Karena itu, untuk mempertahankan kehidupan sel harus diciptakan tekanan osmosis yang seimbang antara lingkungan dan isi sel.
·           Kelembaban dan Pengeringan
Tiap jenis mikroba mempunyai kelembaban optimum tertentu. Pada umumnya khamir dan bakteri membutuhkan kelembapan yang lebih tinggi dibandingkan jamur. Tidak semua air dalam medium dapat digunakan mikroba. Air yang dapat digunakan disebut air bebas. Banyak mikroba yang tahan hidup dalam keadaan kering untuk waktu yang lama. Misalnya mikroba yang membentuk spora, spora, dan bentuk-bentuk kista. Pada proses pengeringan air akan menguap sehingga kegiatan metabolisme terhenti.

Sayuran, Buah-Buahan, dan Produknya
Sayuran  merupakan bahan pangan yang sering terkontaminasi oleh tanah dan kotoran. Kontaminasi dapat terjadi selama permanenan, pengangkutan maupun pemasaran. Selama permanenan, sayuran sering ditempatkan begitu saja di atas tanah yang melekat pada sayuran tersebut. Kontaminasi juga dapat berasal dari alas, karung atau keranjang yang digunakan selama pengangkutan dan pemasaran.
Mutu sayuran yang digunakan dalam pengolahan pangan sangat menentukan mutu produk akhirnya. Penggunaan sayuran yang terkontaminasi mikroba dalam jumlah tinggi akan menghasilkan produk akhir dengan mutu yang rendah, dan dapat menyebabkan produk tersebut menjadi lebih mudah rusak atau busuk selama penyimpanan.
Kerusakan sayuran dan buah-buahan sering terjadi akibat benturan fisik, kehilangan air sehingga layu, serangan serangga, dan serangan mikroba. Sayur-sayuran yang mudah rusak misalnya adalah kubis, tomat, wortel, dan lain-lain.


Tanda-tanda kerusakan mikrobiologi pada sayuran dan buah-buahan antara lain adalah:
·           Busuk air pada sayuran yang disebabkan oleh pertumbuhan beberapa bakteri, ditandai dengan tekstur yang lunak (berair).
·           Perubahan warna yang disebabkan oleh pertumbuhan kapang yang membentuk spora berwarna hitam, hijau, abu-abu, biru, hijau, merah jambu, dan lain-lain.
·           Bau alkohol, rasa asam, disebabkan oleh pertumbuhan kamir atau bakteri asam laktat, misalnya pada sari buah.

IV.              PROSEDUR KERJA
·           Buah
o    Dipotong buah secara aseptik seluas 2 cm x 2,5 cm, menggunakan pinset dan pisau atau gunting yang terlebih dahulu dicelupkan ke dalam alkohol.
o    Dicelupkan potongan tersebut ke dalam gelas kimia yang berisi 9 ml larutan pengecer.
o    Dikocok dan didiamkan selama 10 menit.
o    Dilakukan pengenceran hingga pengenceran 10-4.
o    Dilakukanlah pemupukan suspensi tersebut sebanyak 1 mL pada cawan petri yang telah berisi media PCA pada pengenceran 10-3 dan 10-4.
o    Pemupukan dilakukan duplo
o    Diiinkubasikan dalam posisi terbalik pada suhu 30 - 32ºC selama 2 – 3 hari.
o    Dihitung koloni yang tumbuh.
o    Dilakukan pelaporan secara SPC




·           Sayuran
o    Diambil bagian-bagian dari sayuran yang mengalami busuk air, menggunakan pinset dan pisau atau gunting yang terlebih dahulu dicelupkan ke dalam alkohol.
o    Dicelupkan potongan tersebut ke dalam gelas kimia yang berisi 9 ml larutan pengecer.
o    Dikocok dan didiamkan selama 10 menit.
o    Dilakukan pengenceran hingga pengenceran 10-4.
o    Dilakukanlah pemupukan suspensi tersebut sebanyak 1 mL pada cawan petri yang telah berisi media PCA pada pengenceran 10-3 dan 10-4.
o    Pemupukan dilakukan duplo
o    Diiinkubasikan dalam posisi terbalik pada suhu 30 - 32ºC selama 2 – 3 hari.
o    Dihitung koloni yang tumbuh.
o    Dilakukan pelaporan secara SPC
o    Dibuat perlakukaan yang sama terhadap sampel sayur segar

V.              DATA PENGAMATAN
·           Buah
Pengenceran 10-3 simplo      = 334
Pengenceran 10-3 duplo       = 316
Pengenceran 10-4 simplo      = 100
Pengenceran 10-4 duplo       = 88
·           Sayur Segar
Pengenceran 10-3 simplo      = 289
Pengenceran 10-3 duplo       = 156
Pengenceran 10-4 simplo      = 96
Pengenceran 10-4 duplo       = 116


·           Sayur busuk
Pengenceran 10-3 simplo      = 392
Pengenceran 10-3 duplo       = 468
Pengenceran 10-4 simplo      = 124
Pengenceran 10-4 duplo       = 180

PERHITUNGAN
·           Buah
Jumlah koloni
Per pengenceran
Standard Plate Count
Keterangan
10-3
10-4
334
316
100
88
9,4 x 105
Rata-rata dari pengenceran 10-4.

·           Sayur segar
Jumlah koloni
Per pengenceran
Standard Plate Count
Keterangan
10-3
10-4
289

156
96

116
2,2 x 105
Rata-rata dari pengenceran 10-3 karena perbandingan antara pe-ngenceran 10-3 dan 10-4 lebih besar 2

·           Sayur busuk
Jumlah koloni
Per pengenceran
Standard Plate Count
Keterangan
10-3
10-4
392
468
124
180
1,5 x 106
Rata-rata dari pengenceran 10-4
VI.              PEMBAHASAN
Pada praktikum ini kelompok kami melakukan uji mikrobiologi sayur dan buah. Uji mikroorganisme pada sayuran dan buah merupakan suatu hal penting dalam suatu industri pangan karena merupakan usaha atau tindakan yang dilakukan untuk mencegah perpindahan mikroorganisme pada bahan pangan lain dan hal ini juga sebagai parameter kualitas terhadap produk akhir. Sumber-sumber kontaminasi biasanya berasal dari lingkungan, peralatan pengolahan, pekerja, sampah, serangga, ataupun udara.
Pada praktikum ini, kami menggunakan sayur bayam dan buah apel sebagai sampel dan  Plate Count Agar (PCA) sebagai media pertumbuhan mikroba yang diletakkan pada sebuah cawan petridiks. Selain itu, praktikum ini menggunakan metode pengenceran, dengan larutan garam sebagai larutan pengencer. Tujuan dilakukan pengenceran untuk mengetahui jumlah sesungguhnya mikroba yang terdapat pada sampel.
Data yang kami peroleh setelah praktikum  yaitu pada sampel buah apel diperoleh jumlah mikroba sebanyak 9,4 x 105. Pada sayur bayam segar, jumlah mikroba sebanyak 2,2 x 105, dan pada sayur bayam busuk jumlah mikrobanya 1,5 x 106. Hasil ini menyatakan bahwa buah dan sayur telah mengalami kontaminasi oleh miroba. Jumlah mikroba yang cukup tinggi pada sayur dan buah apabila dikonsumsi tidak akan mendatangkan manfaat bagi tubuh bahkan mungkin saja mendatangkan penyakit. Konsumsi buah dan sayur dengan perlakuan yang tidak higiene akan menyebabkan mikroba yang terdapat pada sayur dan buah masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan penyakit.
Kontaminasi pada sayur dan buah dapat terjadi pada proses permanenan, pengangkutan maupun pemasaran. Selama permanenan, sayuran dan buah sering ditempatkan begitu saja di atas tanah. Kontaminasi juga dapat berasal dari wadah yang digunakan selama pengangkutan dan pemasaran.
Mutu sayuran dana buah yang digunakan dalam pengolahan pangan sangat menentukan mutu produk akhirnya. Penggunaan sayuran dan buah yang terkontaminasi mikroba dalam jumlah tinggi akan menghasilkan produk akhir dengan mutu yang rendah, dan dapat menyebabkan produk tersebut menjadi lebih mudah rusak atau busuk selama penyimpanan.

VII.              KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum diatas diperoleh jumlah mikroba pada buah 9,4 x 105, jumlah mikroba pada sayur segar 2,2 x 105, dan jumlah mikroba pada sayur busuk 1,5 x 106. Pengujian mikroba pada sayur dan buah perlu dilakukan agar buah dan sayuran yang dikonsumsi dapat memberikan manfaat bagi tubuh dan apabila diolah dapat dihasilkan produk akhir dengan dengan kualitas yang baik.

VIII.              DAFTAR PUSTAKA
Jobsheet Lab. Mikrobiologi Pangan. Jurusan Teknik Kimia. 2012. Politeknik Teknik Negeri Ujung Pandang.
Mas’ud, fajriati. Bahan ajar mikrobiologi. 2012. Politeknik Teknik Negeri Ujung Pandang


Tidak ada komentar:

Posting Komentar