Pintu masjid itu terbuka untuk siapa saja. Ada yang sujud di dalamnya
penuh harap, doa dan linangan air mata. Hening . sepertinya ada yang
lagi mengadu, ada yang lagi curhat. Tapi siapa. Pintu masjid itu indah
untuk dilihat siapa saja. Ukiran-ukiran yang menghiasinya tampak
sederhana tapi tetap indah. Dan di pintu masjid itu aku bertemu dengan
seorang laki-laki yang aku sendiri tidak mengenalinya. Tubuhku gemetar
hebat. Gemetar yang aku sendiri sulit untuk mengartikannya. Rasa takut
juga bimbang. Entahlah sepertinya ada detak jantung yang menyesali
pertemuan itu. Pertemuan dengan laki-laki itu. Laki-laki di pintu
masjid. Itulah laki-laki yang sering ku lihat di pintu masjid.
Pintu
masjid itu tetap terbuka untuk siapa saja yang ingin mencari
ketenangan. Begitu juga aku. Aku sering mencari ketenangan di sana. Tapi
ketika kunjuangan ku waktu itu, ketenangan yang aku harapkan semuanya
barcampur dengan rasa bimbang, menjadi serba salah, sepertinya
ketenangan yang aku harapkan memudar setelah melihat laki-laki di pintu
masjid itu.
***
“Panggil saja
saya ayah, jangan sungkan-sungkan”. Suruh ustaz syarifuddin.
“tapi
pantaskah saya memanggil dengan nama itu?”.
“kenapa tidak,
bukankah saya sudah menganggap kamu seperti anak saya sendiri”.
“mungkin
butuh waktu pak, untuk memanggil dengan sebutan ayah”.
“sekiranya
kamu sudah bersedia memanggil saya dengan sebutan ayah, jangan
sungkan-sungkan ya, saya sangat senang, punya anak sebaik kamu”. Senyum
itu teduh. Senyum layaknya seorang ayah pada anaknya. Begitulah yang
aku rasakan. Senyum itu memberikan aku semangat untuk melangkah. Andai
dia tahu kalau aku ingin sekali untuk memanggilnya dengan sebutan ayah.
Memintanya menjadi ayahku. Tapi lidah ini terasa kaku ketika kata ayah
itu ku ucapkan dihadapannya. Sering aku membayangkan ketika aku ada
dihadapanya dan aku dengan kencang memanggilnya ayah. Pernah sekali,
ketika di halaman belakang rumah, di kebun tepatnya, ustaz syarifuddin
sedang membersih kebun. Mencabut rumput-rumput liar.
Menyirami
sayurnya. Niat hati ingin memberitahukan padanya jika aku sudah bersedia
memanggilnya ayah. Aku membayangkan ekspresi wajahnya pasti tampak
bahagia. Aku menghampirinya. Di hadapannya. Mulutku teramat sulit untuk
memanggilnya ayah, masih memanggilnya dengan sebutan pak. Lidahku
lagi-lagi kaku. Itu terjadi karena di kebun itu ada bu siti, istrinya
ustaz syarifuddin. Aku takut jika ucapanku ini bisa mengundang rasa tak
sedap di hati bu siti. Cukuplah sudah selama ini aku memberikan mereka
beban untuk merawatku. Mereka menyadari kedatanganku. Mereka menyapaku
terlebih dulu. Aku tersipu malu. Sebenarnya bu siti orangnya baik, ramah
penuh kasih sayang. Senyumnya teduh. Layaknya seorang ibu pada anaknya.
Angin
melintas di kebun itu. Melayang-layang. Membuat daun-daun kecoklatan
gugur dari pohon. Musim panas. Ranting-ranting melambai. Sayur tampak
menghijau, segar. Kangkung. Bayam dan kacang panjang. Juga ada
sayur-sayur yang lain, yang aku sendiri tidak tahu apa nama sayur itu.
Tangan mereka penuh dengan kasih sayang, hingga menyulap halaman
belakang rumah menjadi perkarangan hijau yang di penuhi dengan sayur dan
buah-buahan segar. Mereka pintar berkebun. Biasanya hasil penen mereka
jual sendiri di warung mereka.
“beginilah jika tangan kita ramah
dengan tanah, kita bisa membuat halaman belakang ini menjadi kebun
menghijau”. Ucap bu siti dengan lembut.
Ustaz syarifuddin kini
menampungku. Bu siti dan ana juga menyambutku dengan ramah dalam
keluarga mereka itu. Mereka mencoba membangkitkan aku dari mimpi buruk
ini. Mimpi yang selalu membuat langkahku kaku, melemah dan roboh. Saat
ragaku tak mampu mengharungi hidup, keluarga merekalah yang memapah
jiwaku, memberikan aku semngat. Hidupku ku lanjutkan di keluarga ini.
Tiap-tiap langkah dan angan tetap demi ibu. Demi seyum ibu. Kian hari
aku mulai sadar jika ibu kini tak lagi ada disisiku, jauh meninggalkan
ku. Ibu tetap ada di hatiku.
Statusku kini sempurna menjadi yatim
piatu. Aku tak punya siapa-siapa lagi. Aku tidak punya tempat berbagi
tangis maupun tawa. Aku tak lagi punya tempat seperti dulu. Tempat
ketika ibu selalu ada di sisiku. Alhamdulillah. Kini aku punya tempat
lagi untuk belabuh, tempat kedua setelah ibu, tempat yang mampu
melindungiku dari terobang ambing dihantam angin. Mereka mengadopsikan
aku menjadi anak mereka. Masih tetap kaku untuk memanggilnya ayah, tapi
paling tidak aku disini aman, disini aku merasa aku semakin terlindung
oleh hujaman hina orang-orang. Saat aku bersama ibu, tetanggaku bilang
aku hanyalah beban buat ibu, terlahir dalam keadaan tidak sempurna juga
menjadi musibah buat keluargaku, berlanjut dari kepergian ayah, hingga
kami tinggal dalam gubuk derita. Aku selalu ingat itu.
“bu,
kenapa aku terlahir seperti ini bu?”.
“karena kamu anak ibu”.
“berarti
jika aku bukan anak ibu, aku pasti tidak seperti ini. Ya kan bu?”. Ibu
menangis. Aku sangat menyesal mengatakan hal itu. Aku selalu ingat hal
itu. Saat itu senja datang bersama grimis.
Keluarga ustaz
syarifuddin begitu perhatian denganku. Aku dapat merasakan itu. Aku
ingin ketidak berdayaanku, tidak menjadi beban untuk keluarga ini.
Tampak kasih sayang dari mata bu siti. Wajahnya penuh dengan keramahan,
juga senyumnya yang selalu ada di bibirnya. Tidak ada perbedaan antara
aku dan ana, anak semata wayang. Memang agak manja, tapi ana juga baik
denganku. Dia rela berbagi kasih sayang dari orang tuanya denganku.
Walau aku bukan siapa-siapanya, dia tetap baik denganku. Aku selalu
melihat kebaikan dari hati ana. aku harus tidak banyak meminta dari
keluarga itu. Aku terkadang iri dengan ana, ana punya ayah dan ibu yang
baik dengannya, sangat menyayanginya. Semua sangat berbedan denganku.
Ana cantik, dia juga pintar. Aku tidak punya ibu juga ayah, aku tidak
punya keluarga lagi. Keluarga ini penuh dengan kasih sayang. Inilah
salah satu alasan kenapa aku tidak memanggil ustaz syarifuddin dengan
sebutan ayah, aku tidak ingin hadirnya aku di dalam keluarga ini membuat
masalah.
Terlebih lagi ana, mungkin ia suatu hari nanti pasti
merasa tersaingi, keberadaanku di rumah ini. Mungkin ana merasa kasih
sayang dari ayah dan ibu mereka berkurang, karena terpaksa berbagi
dengan ku. Aku merasa tidak enak. Apalagi aku memanggil ayahnya dengan
sebutan ayah juga. Itu bisa mengundang masalah besar. Lebih baik seperti
biasa saja.
***
Pintu masjid itu terbuka untuk siapa
saja. Lagi-lagi aku melihat laki-laki itu ada di dalam. Hampir setiap
waktu dia ada disana. Agak aneh, ucapku. Apa dia tidak punya keluarga,
anak atau rumah. Laki-laki itu tidak beranjak dari tempat duduknya.
Pintu masjid itu tetap terbuka. Maghrib bertandang. Azan berkumandang.
Bulan tampak senang, muncul meski belun bercahaya. Matahari menghilang
di balik mega. senja datang. Mengingatkan aku akan detik-detik terakhir
perpisahan dan kehilangan akan orang yang teramat aku sayang, Ibu. Saat
aku harus kehilangan, saat aku harus belajar mengiklaskan, dan saat aku
tetap bersabar.
Sebatang kara, aku duduk dicelah senja. Menatap
mata itu mata terakhir, kini aku tidak bisa melihat mata itu menangis
lagi. Aku tidak punya ayah, dulu ibu sering bilang, ayah sekarang lagi
di surga. Umurku waktu itu 10 tahun. Aku tidak tahu apa itu surga, tapi
ibu selalu mengatakan jika surga tempat yang aman, menyenangkan dan
penuh dengan keindahan, dan ianya khusus tempat orang-orang baik. Ibu
selalu berpesan, jika aku harus selalu berbuat baik. Orang yang selalu
tunduk pada tuhan. “mungkin seperti ayah”. Ucapku pada ibu. Ibu
tersenyum. Aku percaya semua kata-kata ibu tentang ayah yang lagi di
surga. Aku menerima keadaanku apa adanya, meski berbeda dengan anak-anak
yang lain. Kini ibu tak lagi ada di sisiku. Tak lagi ada untuk
melindungiku dari caci dan hina orang-orang. Ibu tetap mekar di hatiku.
Tetap ada untuk selamanya. Selalu senyum dan selalu hadir dalam mimpiku.
Aku yakin jika ibu sekarang juga sedang duduk di surga melihatku.
Mungkin tidak bersama ayah, tapi bersama siapa, mungkin sendiri sepi.
“bu,
jika ibu sepi di sana, tataplah aku disini bu, sebutlah namaku, karena
aku akan selalu mengirim doa dan tersenyum untuk ibu”.
Kami
terpakasa pindah senja itu juga ke rumah ustaz syarifuddin. Ustaz yang
amat baik dengan aku dan ibu. Pintu masjid itu terbuka untuk siapa saja.
Laki-laki itu masih terlihat di sudut masjid menampung tangan, ada
doa-doa yang tak dapat ku tangkap dengan telingaku. Hanya isak tangis
sesekali memecahkan kesunyian. Aku masih ingat dengan kata-kata ustaz
syarifuddin untuk memanggilnya dengan sebutan ayah. Aku teramat senang.
Kini diriku sudah bersedia. Memanggil ustaz syarifuddin dengan sebuatan
ayah. Ayah baruku. Ayah yang dititipkan Allah untuk melindungiku. Kian
terasa ragaku telah bertemu dengan jiwaku. Aku merasa hidupku mekar
lagi. Setelah kepergian ibu, kini aku di berikan malaikat baru untuk
menjagaku. Seandainya ustaz yang ku panggil ayah itu memang tercipta
untuk ku dari dulu dari aku masih kecil, pasti aku merasa amat bahagia.
“seandainya
ayah kamu masih ada, apakah kamu bersedia menemuinya”.
“ibu
bilang ayah di surga”
“jika itu suatu hadiah untukmu?
“pasti
aku terima, karena kini akukan sudah punya ayah”.
Pukul
17.00WIB. Ada tamu berkunjung di rumah ini. Laki-laki itu, laki-laki
yang selalu ada di muka pintu, pintu masjid. Aku mendengarnya dari ruang
tamu, ayah juga ada di sana, menyambutnya dengan ramah, suaranya
terdengar jelas dari kamarku. Hanya percakapan saling bertanya kabar.
Ruangan tamu masih dipenuhi dengan suara mereka. Bu siti juga ada
diruangan itu. Sepertinya mereka sangat akrab, dari cara berbicaranya,
cara bertanya dan tawa kecil dari canda mereka. Batinku penasaran akan
sesosok laki-laki yang tak sempat ku lihat dari pintu masjid itu. Aku
menatapnya dari jauh, dari pintu kamarku tampa sepengetahuan mereka.
Wajah itu tampaknya tidak asing lagi oleh mataku, tapi dimana aku pernah
bertemu dengan laki-laki itu. Aku sempat kebingungan memikirkan
laki-laki itu.
Usai makan malam. Semua berkumpul di ruangan tamu.
Laki-laki itu masih bertamu di rumah kami. Aku merasa aneh dengan
kunjuang laki-laki itu. Saat matanya melihat mataku. Seakan-akan ia
ingin menyapaku. Tapi mulutnya kaku. Wajahnya sudah akrab dari
penglihatanku. Sekali lagi aku kebingungan saat aku mencari tahu siapa
sebenarnya sosok laki-laki itu. Ada rasa ingin menghampiriku. Dari
matanya juga aku melihat laki-laki itu lagi dilanda masalah. Wajahnya
bergumpal beribu kesedihan, kesedihan yang di sembunyikan di balik mata
itu.
“ baiklah, karena semua sudah berkumpul sekarang di ruangan
ini”. Aku merasa ada sesuatu dari ucapan ayah.
“ayah”. Laki-laki
itu melirikku.
“ya, ada apa?” tanyanya lembut padaku. Tampak
kesenangan dari wajahnya. Akhirnya aku bisa melontarkan kata ayah dari
mulutku. Itu keluar tampa sengaja. Bu siti tersenyum. Itu tanda, bu siti
juga senang mendengar ucapanku tadi, memanggil suaminya dengan sebutan
ayah. Senyumnya masih tetap senyum yang dulu, senyum saat pertama kali
dia mengajakku untuk tinggal dalam keluarganya. Ana juga tidak tampak
ekspresi yang bertukar dari wajahnya, tidak ada tampak wajah suka. Juga
tidak ada wajah dengan marah. Biasa-biasa saja. Semua mata tertuju
padaku. Mata ayah. Mata bu siti dan mata laki-laki itu. Kecuali ana yang
lagi asik dengan handphone barunya itu.
“apakah kamu ingat
kata-kata ayah, sekiranya kamu di berikan ayah oleh Allah, apakah kamu
menerimanya?”
“ya, pasti mau, bukankah aku sudah bertemu dengan
ayah sekarang”.
“ayah?”
“ya ayah, ayah yang datang
mengangkatkan aku dari lembah suram”.
“tapi di sini sudah ada
ayah yang sebenarnya lho”
“ya ayah, siapa lagi, ayahkan ayahku,
tidak mungkin dia ayahku”. Telunjukku dengan santun mengarahkan ke
laki-laki itu. Ayah menganggukkan kepalanya.
“ya”. Aku
kebingungan.
“bukan, aku tidak mengenal dia, ibu bilang ayahku
lagi di surga mungkin sekarang lagi bersama ibu”. Bantahku
“tidak
nak, ini ayahmu”. Potong laki-laki itu.
“bukan kamu bukan
ayahku, ayahku di surga”.
“maaf kan ayah nak”. Hening. Yang ada
hanya linangan air mata yang mengambang di mata laki-laki itu.
Malam
hening membisu. Grimis tetap berkunjung yang tersisa hanyalah angin
senja yang menyelinap masuk ke kamarku. Mataku tak dapat menahan amarah
yang bertahta dalam mataku. Air mata itu tumpah turun bersama dendam dan
amarah. Ada gumpalan benci yang ingin ku lontarkan ke arah laki-laki
itu. Aku hanya menggelengkan kepala, mengisyartkan setengah yakin. Jika
laki-laki itu benar-benar adalah ayahku. Kiranya dia memang ayahku,
biarlah malam ini yang menjawab. Kiranya malam ini menolaknya menjadi
ayahku, aku juga ikut menolaknya, jika sebaliknya, mungkin aku butuh
waktu lama untuk memulihkan luka lama bersama ibu. Aku berharap malam
ini malam terakhir untuk ku melihatnya. Aku bukan membencinya, hanya
saja aku tidak ingin melihat ibu menangis lagi. Aku bukan dendam
dengannya hanya saja aku tidak ingin luka itu datang lagi. Aku menangis.
Kebahagian baru saja ku bina. Dengan susah payah. dengan linangan air
mata, dengan perjuangan ibu. Hingga aku dapat menemui keluarga baru.
Dengan seribu payah aku mengharung hidup dalam lautan hina dari
orang-orang. Kiranya aku menerimanya sebagai ayahku, apakah dia dapat
mengembalikan ibu. “tidakkan”.
Kini harapku untuk memiliki ayah
sudah di kabulkan. Tapi bukan dia, bukan dia ayahku, tapi ustaz
syarifuddin. Aku tidak berharap punya ayah lagi, cukuplah aku punya satu
ayah baru ku ini aku bukan membencinya, kiranya aku menerimanya pasti
akan ada tangis ibu yang tumpah di atas sana. Aku bukan dendam
dengannya, kiranya aku menerimanya, pasti luka lama itu hadir lagi dalam
langkahku.
Langkahnya perlahan-lahan menjauh dari pintu masjid
itu. Hilang bersama malam. Entah pergi kemana laki-laki itu. Yang pasti
dia tidak ada lagi di hadapanku. Aku bingung. Apakah aku harus
menerimanya. Apakah ibu juga mau menerimanya. Aku berlari mengejarnya.
Langkahnya terlalu cepat menghilang. Di pintu masjid, terakhir aku
melihat dia sujud. Doanya tak lagi dapat ku dengar. Entah untuk berapa
lama lagi. Pintu masjid itu tetap terbuka untuk siapa saja yang ingin
mencari ketenangan Mungkin aku harus pergi sejauh mungkin, sejauh hingga
aku tak dapat lagi melihat jejaknya. Ibu kini aku punya ayah baru.
Biarlah mimpi menyatukan kita ibu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar